Senin, 25 April 2011

Evaluasi dan Melaporkan hasil APTL


PROSEDUR MENGEVALUASI DAN MELAPORKAN
HASIL APTL
A.      Pengantar
Perilaku manusia berasal dari faktor bawaan dan lingkungan (ajar atau dari proses belajar). Perilaku menusia sebagai hasil dari proses belajar mengandung pengertian juga bahwa perilaku tersebut dapat diubah atau dimodifikasi alhasil tidak luput dengan menggunakan prosedur mengevaluasi.
Kemampuan untuk menguasai prosedur-prosedur mengevaluasi perilaku sangat diperlukan oleh seseorang yang bergerak dalam bidang psikologi, yang dalam hal ini adalah mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Dalam ranah kerja dan studinya kita akan sering berhadapan dengan orang-orang dan problema psikologis atau perilaku yang beragam, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, orang lain maupun dunia sekitarnya.
Dengan memahami salah satu prosedur mengevaluasi dan melaporkan hasil APTL yaitu dalam memilih prosedur yang tepat sesuai permasalahan yang dihadapi dan menggunakan prosedur tersebut dengan baik. Kita sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling dapat menerapkan prosedur tersebut dengan tepat sesuai yang kita sepakati
.
B.       Pembahasan
Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Tujuan evaluasi disni adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa. jadi Evaluasi mencakup kegiatan pengukuran dan penilaian yang mempunyai ciri umum yaitu untuk menelaah secara terkendali untuk menemukan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahu, dan penilaian sebagai penelaah terkendalai untuk menetapkan pilihan tindakan yang berhubungan dengan suatu keperluan atau masalah praktis, atau untuk keperluan pengambilan keputusan.
Evaluasi merupakan proses mempertimbangkan makna, keefektifan, ketetapan berdasar pada kriteria atau tujuan, atau proses memberikan nilai atas sesuatu untuk mengambil keputusan. Evaluasi mencakup tugas merumuskan tujuan yang diinginkan, mengumpulkan, mengorganisasi informasi untuk mengukur ketercapaian tujuan, mempertimbangkan ketetapan pencapaian, dan membuat keputusan bagi pengembangan program. Pada umunya ada tiga kegiatan pokok dalam membuat keputusan, yakni merumuskan tujuan, melakukan asesmen dan menilai.
Evaluasi dibahas dalam konteks Bimbingan konseling sebagai kegiatan akhir setelah perencanaan/penyusunan, dan pelaksanaan program. Evaluasi sebenarnya tidak terjadi pada akhir kegiatan, tetapi berlangsung terus selama proses berjalan. Seluruh gerak program dilakukan berdasar evaluasi setapak demi setapak. Dan evaluasi berada pada garis pelaksanaan program, dari awal sampai akhir program. Dengan demikian akan mendapatkan balikan (feed back) atas unjuk kerjanya.
Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi dibedakan atas evaluasi diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif. Bila ditinjau dari sasarannya, evaluasi dapat dibedakan atas evaluasi konteks, input, proses, hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan pelaporan.

C.      Jenis-jenis Evaluasi
1.    Jenis evaluasi berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :
a.  Evaluasi diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
b.  Evaluasi selektif
Evaluasi selektif adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siwa yang paling
tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
c.  Evaluasi penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
d.  Evaluasi formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan
untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.
e.  Evaluasi sumatif
Evaluas sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan
kemajuan bekajra siswa.
2.    Jenis evaluasi berdasarkan sasaran :
a.  Evaluasi konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional
tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul
dalam perencanaan
b.  Evaluasi input
Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi
yang digunakan untuk mencapai tujuan.
c.  Evaluasi proses
Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai
kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan
faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.
d.  Evaluasi hasil atau produk
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar
untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan
atau dihentikan.
e.  Evaluasi outcom atau lulusan
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yankni
evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.

3.    Jenis evalusi berdasarkan lingkup dalam kegiatan pembelajaran :
a.  Evaluasi program pembelajaran
Evaluais yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran,
strategi belajar mengajar, aspek-aspek program pembelajaran yang lain.
b.  Evaluasi proses pembelajaran
Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis
besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran.
c.  Evaluasi hasil pembelajaran
Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan
siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun
khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.



4.    Jenis evaluasi berdasarkan objek dan subjek
Evaluasi berdasarkan objek :
a.    Evaluasi input
Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.
b.    Evaluasi tnsformasi
Evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain
materi, media, metode dan lain-lain.
c.    Evaluasi output
Evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.
Evaluasi berdasarkan subjek :
a.    Evaluasi internal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.
b.  Evaluasi eksternal
c.  Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.
D.      Model-model Evaluasi
Dalam melakukan evaluasi, perlu dipertimbangkan model evaluasi yang akan dibuat. Model evaluasi merupakan suatu desain yang dibuat oleh para ahli atau pakar evaluasi. Biasanya model evaluasi ini dibuat berdasarkan kepentingan seseorang, lembaga atau instansi yang ingin mengetahui apakah program yang telah dilaksanakan dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Berdasarkan hal tersebut, dibawah ini dijelaskan lima model evaluasi yang biasanya sering digunakan, yaitu :
1. Model Evaluasi CIPP
2. Model Evaluasi UCLA
3. Model Evaluasi Brinkerhoff
4. Model Evaluasi Stake atau model Countenance
5. Model Evaluasi Metfessel dan Michael


Berikut uraian dari kelima model evaluasi di bawah ini :
1.      Model Evaluasi CIPP
Model evaluasi CIPP yang dikemukakan oleh Stufflebeam & Shinkfield (1985) adalah sebuah pendekatan evaluasi yang berorientasi pada pengambil keputusan            (a decision oriented evaluation approach structured) untuk memberikan bantuan kepada pengambil keputusan. Stufflebeam mengemukakan bahwa hasil evaluasi akan memberikan alternatif pemecahan masalah bagi para pengambil keputusan. Model evaluasi CIPP ini terdiri dari 4 huruf yang diuraikan sebagai berikut :
a. Contect evaluation to serve planning decision. Seorang evaluator harus cermat dan tajam memahami konteks evaluasi yang berkaitan dengan merencanakan keputusan, mengidentifikasi kebutuhan, dan merumuskan tujuan program.
b. Input Evaluation structuring decision. Segala sesuatu yang berpengaruh terhadap proses pelaksanaan evaluasi harus disiapkan dengan benar. Input evaluasi ini akan memberikan bantuan agar dapat menata keputusan, menentukan sumber-sumber yang dibutuhkan, mencari berbagai alternatif yang akan dilakukan, menentukan rencana yang matang, membuat strategi yang akan dilakukan dan memperhatikan prosedur kerja dalam mencapainya.
c. Process evaluation to serve implementing decision. Pada evaluasi proses ini berkaitan dengan implementasi suatu program. Ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab dalam proses pelaksanaan evaluasi ini. Misalnya, apakah rencana yang telah dibuat sesuai dengan pelaksanaan di lapangan? Dalam proses pelaksanaan program adakah yang harus diperbaiki? Dengan demikian proses pelaksanaan program dapat dimonitor, diawasi, atau bahkan diperbaiki.
d.  Product evaluation to serve recycling decision. Evaluasi hasil digunakan untuk menentukan keputusan apa yang akan dikerjakan berikutnya. Apa manfaat yang dirasakan oleh masyarakat berkaitan dengan program yang digulirkan?
Apakah memiliki pengaruh dan dampak dengan adanya program tersebut? Evaluasi hasil berkaitan dengan manfaat dan dampak suatu program setelah dilakukan evaluasi secara seksama. Manfaat model ini untuk pengambilan keputusan (decision making) dan bukti pertanggung jawaban (accountability) suatu program kepada masyarakat. Tahapan evaluasi dalam model ini yakni penggambaran (delineating), perolehan atau temuan (obtaining), dan penyediakan (providing) bagi para pembuat keputusan.

2.      Model Evaluasi UCLA
Menurut Alkin (1969) evaluasi adalah suatu proses meyakinkan keputusan, memilih informasi yang tepat, mengumpulkan, dan menganalisa informasi sehingga dapat melaporkan ringkasan data yang berguna bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif. Ia mengemukakan lima macam evaluasi yakni :
a. Sistem assessment, yaitu memberikan informasi tentang keadaan atau posisi sistem.
b.  Program planning, membantu pemilihan program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan progam.
c. Program implementation, yang menyiapkan informasi apakah rogram sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang tepat seperti yang direncanakan?
d. Program improvement, yang memberikan informasi tentang bagaimana program berfungsi, bagaimana program bekerja, atau berjalan? Apakah menuju pencapaian tujuan, adakah hal-hal atau masalah-masalah baru yang muncul tak terduga?
e. Program certification, yang memberi informasi tentang nilai atau guna program.

3.      Model Evaluasi Brinkerhoff
Brinkerhoff & Cs. (1983) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain, namun dalam komposisi dan versi mereka sendiri sebagai berikut :
a. Fixed vs Emergent Evaluation Design. Dapatkah masalah evaluasi dan kriteria akhirnya dipertemukan? Apabila demikian, apakah itu suatu keharusan? Belum lengkap penjelasannya
b. Formative vs Summative Evaluation. Apakah evaluasi akan dipakai untuk perbaikan atau untuk melaporkan kegunaan atau manfaat suatu program? Atau keduanya?
c. Experimental and Quasi Experimental Design vs Natural/ Unobtrusive Inquiry. Apakah evaluasi akan melibatkan intervensi ke dalam kegiatan program/mencoba memanipulasi kondisi, orang diperlakukan, variabe1 dipengaruhi dan sebagainya, atau hanya diamati, atau keduanya?
4.      Model Evaluasi Stake atau model Countenance
Menurut model ‘Countenance’, penilaian harus mengandung langkah-langkah berikut; menerangkan program; melaporkan keterangan tersebut kepada pihak yang berkepentingan; mendapatkan dan menganalisis ‘judgment; melaporkan kembali hasil analisis kepada klien. Seterusnya, model responsif mencadangkan perhatian yang terus menerus oleh penilai dan semua pihak yang terlibat dengan penilaian. Model evaluasi Stake (1967), merupakan analisis proses evaluasi yang membawa dampak yang cukup besar dalam bidang ini, meletakkan dasar yang sederhana namun merupakan konsep yang cukup kuat untuk perkembangan yang lebih jauh dalam bidang evaluasi. Stake menekankan pada dua jenis operasi yaitu deskripsi (descriptions) dan pertimbangan (judgments) serta membedakan tiga fase dalam evaluasi program yaitu :
 Persiapan atau pendahuluan (antecedents)
, Proses/transaksi (transaction-processes),
 Keluaran atau hasil (outcomes, output)
.
http://hafismuaddab.files.wordpress.com/2011/03/bagan1.png?w=600&h=185Model stake tersebut dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut :
Descriptions matrix menunjukkan Intents (goal=tujuan) dan observations (effect=akibat) atau yang sebenarnya terjadi. Judgment berhubungan dengan standar (tolak ukur = kriteria)/dan judgment (pertimbangan). Stake menegaskan bahwa ketika kita menimbang-nimbang di dalam menilai suatu program pendidikan, kita tentu melakukan pembandingan relatif (antara satu program dengan standard).
Model ini menekankan kepada evaluator agar membuat keputusan/penilaian tentang program yang sedang dievaluasi secara benar, akurat dan lengkap. Stake menunjukkan bahwa description disatu pihak berbeda dengan pertimbangan (judgment) atau menilai. Di dalam model ini data tentang Antecendent (input), Transaction (process) dan Outcomes (Product) data tidak hanya dibandingkan untuk menentukan kesenjangan antara yang diperoleh dengan yang diharapkan, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang mutlak agar diketahui dengan jelas kemanfaatan kegiatan di dalam suatu program.

5.      Model Evaluasi Metfessel dan Michael
Metfessel dan Michael (1967), dapat digunakan oleh guru dan evaluator program. Dalam strategi model Metfessel dan Michael terdapat delapan langkah yaitu :
a. Keterlibatan masyarakat (envalvement of the community) yakni : orang tua, ahli-ahli pendidikan dan peserta didik
b.  Pengembangan tujuan dan memilih tujuan menurut skala prioritas.
c.  Menterjemahkan tujuan menjadi bentuk tingkah laku dan mengembangkan pengajaran.
d.  Mengembangkan metode untuk mengukur dan mengevaluasi pencapaian tujuan.
e.  Menyusun dan mengadministrasi ukuran untuk mengevaluasi pencapaian tujuan
f.  Menganalisis hasil pengukuran
g.  Menginterpretasi dan mengevaluasi data
h. Menyusun rekomendasi untuk mengembangkan pengajaran
Metode ini dilengkapi dengan instrumen pengumpulan data, lengkap dengan kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi sebuah proyek/kegiatan program. Seperangkat instrumen tersebut meliputi : tes, angket, check list, dan sebagainya serta cara-cara lain untuk menghimpun data penunjang. 
A.      Laporan Hasil Evaluasi
Pada akhir penggal waktu proses pembelajaran, antara lain akhir catur wulan, akhir semester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang pendidikan diperlukan suatu laporan kemajuan peserta didik yang selanjutnya merupakan laporan kemajuan lembaga pendidikan. Laporan ini akan memberikan bukti sejauhmana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh anggota masyarakat, khususnya orang tua siswa dapat tercapai. Agar anggota masyarakat dapat menilai kemajuan sekolah secara objektif, seyogyanya setiap lembaga pendidikan membuka diri untuk memberikan informasi secara berkala. Pemberian informasi ini dapat berupa Laporan Umum dan Laporan Khusus tentang prestasi yang dapat dicapai oleh sekolah (Sakni, 2006; 135).
Menurut Suharsimi Arikunto (Arikunto, 1996; 294-295), laporan hasil evaluasi ini berupa catatan yang secara garis besarnya dibuat 2 macam, yakni:
1.      Catatan Lengkap
Adalah catatan tentang siswa yang berisi baik prestasi maupun aspek-aspek pribadi yang lain, misalnya: kejujuran, kebersihan, kerajinan, sikap sosial, kebiasaan bekerja, kepercayaan terhadap diri sendiri, disiplin ketelitian dan sebagainya. Tentang isi catatannya, ada yang hanya dinyatakan dengan kata singkat “Baik”, “Sedang”, “Kurang” atau dengan keterangan  yang lebih terperinci.
2.      Catatan tidak lengkap
Adalah catatan tentang siswa yang berisi gambaran tentang prestasi siswa, dan hanya sedikit saja menyinggung tentang kepribadian. Tentang catatan prestasi belajar siswa itu sendiri dapat dibedakan atas 2 cara: pertama, dengan pernyataan lulus-belum lulus, kedua, dengan nilai siswa.
Menurut Ridwan Sakni (Sakni, 2006; 135), bahwa laporan hasil evaluasi ini ada 2 (dua) bentuk laporan, yaitu:
1.      Laporan Kemajuan Umum
Dikatakan laporan umum dikarenakan informasi tersebut untuk siapa saja yang berminat dengan sasaran utamanya adalah orang tua, peserta didik, dan masyarakat di sekitar sekolah.
2.      Laporan Kemajuan Khusus
Dikatakan laporan khusus disampaikan hanya kepada orang tua dan peserta didik, karena laporan ini banyak menyangkut masalah pribadi yang tabu untuk diketahui oleh orang lain. Paling tidak ada dua jenis wadah yang dapat digunakan untuk menyampaikan laporan ini (Sakni, 2006; 136-140) yaitu melalui:
1)    Pertemuan dengan orang tua siswa
Pertemuan dengan orang tua siswa merupakan kegiatan yang tak pernah terpisahkan dengan buku raport siswa. Dengan adanya pertemuan tatap muka ini kedua belah pihak akan membagi dan saling melengkapi informasi tentang pribadi peserta didik. Melalui pertemuan ini masalah yang dihadapi di sekolah ataupun yang terjadi di rumah akan dapat dicari jalan keluarnya demi keberhasilan siswa.
Pertemuan dengan orang tua siswa akan memberikan hasil yang bermakna, apabila direncanakan dengan baik. Melaksanakan pertemuan sejenis ini memerlukan keterampilan khusus, oleh karena itu latihan melaksanakan pertemuan dengan orang tua siswa merupakan suatu mata tataran dalam berbagai pertemuan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melaksanakan pertemuan dengan orang tua siswa antara lain:
a.  Persiapan pelaksanaan pertemuan, termasuk di dalamnya:
1.    Apa maksud/tujuan pertemuan itu
2.    Persiapan laporan kemajuan masing siswa secara umum
3.    Catatan tentang kemajuan masing-masing siswa
4.    Informasi yang akan disampaikan kepada orang tua agar diatur secara sistematis
5.    Buatkan daftar pertanyaan yang akan disampaikan kepada orang tua siswa
6.    Pertanyaan-pertanyaan apa yang diperkirakan akan disampaikan oleh orang tua siswa
7.    Rencanakan situasi yang menyenangkan dan informal (tidak resmi).
b.   selama pertemuan di upayakan agar:
1.    Terciptanya suatu pertemuan yang ramah dan informal suasananya
2.    Terpeliharanya suatu sikap yang positif
3.    Bahan yang digunakan mudah dimengerti
4.    Bersedia mendengar informasi yang disampaikan orang tua siswa
5.    Berlaku ramah dan jujur
6.    Memulai pembicaraan dengan butir-butir yang menyenangkan
7.    Menyampaikan dengan cara yang positif dengan penuh hati-hati tentang hal-hal yang memerlukan perbaikan
8.    Mengupayakan agar orang tua siswa terlibat secara aktif dalam pertemuan
9.    Berhati-hati dalam memberikan saran
10.  Membacakan dan menyampaikan catatan notulen rapat sebagai hasil pertemuan
11.  Mengakhiri pertemuan dengan hasil yang positif.
Dengan adanya catatan tentang pelaksanaan pertemuan diatas, diharapkan guru terutama yang akan mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa tertolong untuk mendapatkan informasi yang menyeluruh yang dapat membantu kemajuan belajar siswa.
2)   Buku laporan kemajuan atau buku raport
Dengan membaca dan mencermati hasil yang dicapai oleh siswa melalui raport yang diterimanya, maka siswa dan orang tuanya dapat menentukan sikap dan mengambil langkah seperlunya untuk mengatasi kesulitan belajar anaknya, atau paling tidak selalu memberikan dorongan kepada anaknya untuk lebih meningkatkan lagi prestasi belajar yang telah dicapainya.

B.       Kesimpulan
Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Dan evaluasi disni mempunyai tujuan untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar